Cover Banner (1640 × 624 piksel)



"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk." (QS. an-Nahl :125)
Gelar Pengajian Bulanan, MUI Jabar Jadikan Momentum Muharram untuk Perbaikan Umat

BANDUNG, MUI JABAR — Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Jawa Barat kembali menggelar pengajian rutin bulanan sekaligus pembacaan manaqib yang bertepatan dengan momentum bulan suci Muharram 1448 H. Kegiatan spiritual ini diharapkan menjadi titik tolak kebangkitan dan perbaikan diri (hijrah) bagi seluruh jajaran pengurus maupun umat Islam secara luas.

Dalam sambutannya, Wakil Ketua Umum MUI Jawa Barat Dr. KH. Asep Zaenal Muttaqien, ST., M.Ag. mewakili jajaran kepengurusan menyampaikan apresiasi yang tinggi atas terselenggaranya majelis ilmu tersebut. Kehadiran para ulama, termasuk Ketua Umum MUI Jawa Barat, Dr. KH. Aang Abdullah Zein, M.Pd.I., menjadi spirit tersendiri dalam meneguhkan komitmen berkhidmat untuk umat.

"Atas nama pengurus MUI Jawa Barat, kami menghaturkan terima kasih kepada seluruh tim dan jemaah yang telah mewujudkan kelancaran acara ini. Semoga langkah kita menjadi amal saleh yang membuahkan pahala di sisi Allah SWT," ungkapnya di hadapan para jemaah.

Bulan Haram dan Pesan Perdamaian

Lebih lanjut, ia mengupas tentang keistimewaan bulan Muharram sebagai salah satu dari empat Asyhurul Hurum (bulan-bulan haram) bersama Rajab, Dzulqa'dah, dan Dzulhijjah. Pada bulan-bulan ini, Allah SWT secara tegas mengharamkan peperangan.

Hal ini menjadi teguran historis bagi tradisi masyarakat Arab masa lampau yang sering kali menyelesaikan perselisihan kabilah dengan pertumpahan darah akibat kerasnya kondisi geografis.

"Hikmahnya luar biasa. Manusia diciptakan Allah sebagai khalifah untuk memakmurkan dan merawat dunia ini agar damai dan tenteram. Itulah tugas utama Baginda Rasulullah SAW sebagai rahmatan lil alamin, simbol kasih sayang bagi seluruh makhluk," paparnya menjelaskan esensi perdamaian dalam Islam.

Momentum Perbaikan dan Hijrah

Menyinggung sejarah penetapan kalender Hijriah, ia mengingatkan kembali gagasan brilian dari Khalifah Umar bin Khattab (Al-Faruq). Berbeda dengan usulan menjadikan hari kelahiran atau kewafatan Nabi sebagai awal tahun, Sayyidina Umar justru memilih momentum Hijrah sebagai titik nol penanggalan umat Islam.

Menurutnya, keputusan Sayyidina Umar memiliki visi yang jauh ke depan. "Seolah beliau berpesan kepada umat Islam di masa mendatang: jadikanlah bulan Muharram sebagai bulan kebangkitan. Muharram harus menjadi momentum untuk perbaikan-perbaikan; perbaikan ibadah, perbaikan amal saleh, dan perbaikan semangat menjaga kebenaran serta melanjutkan risalah nubuwwah Nabi Muhammad SAW," tegasnya.

Beban dakwah dan tanggung jawab perbaikan umat tersebut kini berada di pundak ulama, termasuk MUI Jawa Barat sebagai wadah ulama wa zuama (ulama dan pemimpin).

Meneladani Tobatnya Nabi Adam AS pada Hari Asyura

Di samping nilai historis, Muharram juga memiliki hari yang sangat mulia, yakni Yaumul Asyura (10 Muharram). Pada hari inilah Allah SWT menerima tobat Nabi Adam AS setelah dikeluarkan dari surga dan terpisah dari Siti Hawa selama ratusan tahun.

Ia mengajak jemaah untuk melakukan refleksi mendalam atas kisah tersebut. Nabi Adam AS yang hanya melakukan satu kesalahan (memakan buah khuldi) harus bertobat selama 300 tahun dengan doa Robbana dholamna anfusana.

"Ini menjadi bahan renungan bagi kita semua. Cacakan (padahal) Nabi Adam yang kesalahannya hanya satu, tobatnya 300 tahun. Sementara kita yang hidup puluhan tahun dan berlumur dosa, apakah tobat kita sudah sekuat itu? Kita bukanlah manusia yang ma'sum (terpelihara dari dosa) seperti para nabi, maka kita harus senantiasa waspada dan memperbanyak taubatan nasuha," pesannya penuh haru.

Di akhir sambutan, ia memimpin doa khusus bagi kelancaran dan keselamatan seluruh jajaran pengurus MUI Jawa Barat dalam menjalankan amanah keumatan.

"Melalui keberkahan manaqiban dan wirid ini, mudah-mudahan Allah SWT memberikan kelancaran, kemudahan, dan keselamatan bagi pengurus MUI Jawa Barat, wabil khusus untuk pangersa Bapak Ketua Umum. Semoga kita senantiasa istikamah meneruskan perjuangan risalah Nabi Muhammad SAW," pungkasnya.

E. Wifky Afandi (Infokom MUI Prov. Jabar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *