Cover Banner (1640 × 624 piksel)



"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk." (QS. an-Nahl :125)
Waketum MUI Pusat Hadiri Gebyar Muharram 1448 H MUI JABAR di Sukabumi, Ajak Umat Hidupkan Amalan Asyura
SUKABUMI, MUIJABAR – Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Dr. KH. Marsudi Syuhud M.M. menghadiri acara Gebyar Muharram 1448 H yang diselenggarakan oleh MUI Provinsi Jawa Barat di Pondok Pesantren Azzainiyyah, Nagrog Sinar Barokah, Kabupaten Sukabumi, pada Kamis (25/6/2026) malam. Dalam taushiyahnya, ia mengajak seluruh umat Islam untuk merenungkan kebesaran Allah Swt. yang telah menciptakan segala sesuatu di alam semesta ini dengan penuh keistimewaan, mulai dari makhluk, tempat, hingga waktu. "Allah Swt. menjadikan apa saja ada yang istimewa. Dari seluruh makhluk di dunia, manusialah yang paling istimewa. Di antara manusia, yang paling istimewa adalah Nabi Besar Muhammad saw. Setelah Rasulullah, keistimewaan itu turun kepada para sahabat, tabiin, tabiit tabiin, hingga kepada para ulama karena al-ulama-u warasatul anbiya (ulama adalah pewaris para nabi)," ujar Dr. KH. Marsudi Syuhud M.M. Dalam kesempatan tersebut, Dr. KH. Marsudi Syuhud M.M. juga menekankan pentingnya peran lembaga dan pondok pesantren yang senantiasa mengurus, mencetak, serta menjaga ilmu-ilmu warisan para ulama agar keberkahan tersebut tetap relevan dan terjaga hingga hari ini. Lebih lanjut, Dr. KH. Marsudi Syuhud M.M. menjelaskan mengenai keistimewaan waktu yang telah ditetapkan oleh Allah Swt., di mana dalam satu tahun terdapat empat bulan yang mulia (arba'atun hurum), yaitu Dzulqa'dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. "Hari ini kita berada di bulan Muharram, waktu yang sangat istimewa. Mengapa bulan Asyura (Muharram) ini diperingati di mana-mana? Karena bulan ini memiliki kehebatan, khasais (karakteristik khusus), dan fadhilah yang sangat besar melebihi bulan-bulan lainnya. Yaumu Asyura yaumun 'adzim (Hari Asyura adalah hari yang agung)," terangnya. Sebagai bentuk syukur atas dipertemukannya kembali dengan bulan yang agung ini, Dr. KH. Marsudi Syuhud M.M. mengimbau umat Islam untuk menghidupkan amalan sunah, salah satunya adalah ibadah puasa. "Maka ketika kita sampai di bulan Asyura semacam sekarang ini, fasumuhu syukron lillah—berpuasalah sebagai bentuk syukur kita kepada Allah. Puasa di bulan Asyura itu sunah, bahkan muakkadah (sangat dianjurkan)," tambahnya. Di hadapan para jemaah dan santri yang hadir, Dr. KH. Marsudi Syuhud M.M. juga membagikan amalan doa penarik rezeki yang bersumber dari pandangan ulama besar, Syekh Abdul Qadir Al-Jaelani. Ia menyarankan untuk membaca doa Hasbunallah wa ni'mal wakil, ni'mal maula wa ni'man nashir minimal sebanyak 70 kali dalam sehari semalam pada bulan Asyura ini. "Mumpung berada pada bulan yang istimewa, insya Allah pintu rezeki akan dibukakan dan dimudahkan oleh Allah Swt," tuturnya. Selain itu, Dr. KH. Marsudi Syuhud M.M. juga mengingatkan bahwa selain dengan doa, kesuksesan lahir dan batin harus senantiasa diiringi dengan ikhtiar yang nyata dan tepat. Muhammad Rizqy Fauzi, M.Sos. (Infokom MUI Prov. Jabar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *