SUKABUMI, MUIJABAR – Di tengah arus modernisasi yang kerap memicu krisis spiritual dan kekeringan batin, tradisi pembacaan Manaqib di majelis-majelis taklim tidak boleh lagi dipandang sebelah mata. Tradisi ini hadir bukan sekadar sebagai ritual pelengkap atau kumpulan legenda, melainkan sebagai karya historiografi yang sistematis dan benteng pertahanan ruhiyah umat.
Penegasan berbobot tersebut disampaikan oleh Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Jawa Barat Bidang Keagamaan, Prof. Dr. H. Ajid Thohir, M.Ag., saat memberikan Khidmah Ilmiyyah pada peringatan Robi'ul Akhir 1448 H. Acara bulanan yang khidmat ini diselenggarakan di Pondok Pesantren Azzainiyyah, Sukabumi, yang juga merupakan kediaman resmi Ketua Umum MUI Jawa Barat, Dr. KH. Aang Abdullah Zein, M.Pd.I.
Meluruskan Makna, Membedah Historisitas
Tampilnya Prof. Ajid Thohir dalam forum ini memberikan dimensi yang sangat kaya. Sebagai seorang Guru Besar Ilmu Sejarah Kebudayaan Islam UIN Sunan Gunung Djati Bandung yang telah merampungkan riset doktoralnya khusus mengenai Manaqib Syekh Abdul Qadir al-Jailani, beliau membedah tradisi ini dengan pisau analisis akademik dan tasawuf yang tajam.
Prof. Ajid meluruskan pandangan keliru yang kerap mengerdilkan Manaqib sebatas cerita mitos rakyat. Secara etimologis, kata tersebut berakar dari naqaba, yang dalam tradisi sufi dimaknai sebagai upaya menelisik secara khusus keutamaan, karamah, dan keistimewaan seseorang yang telah mencapai derajat spiritual tinggi (al-arif).
"Kitab Manaqib didefinisikan sebagai kumpulan catatan sistematis yang menjelaskan tentang berbagai keunggulan atau karamah-karamah yang terjadi pada seseorang yang memiliki nilai istimewa," urai Prof. Ajid memaparkan rumusan akademiknya.
Ia memaparkan bahwa kitab-kitab manaqib klasik disusun menggunakan paradigma sufisme yang diukur dengan metode periwayatan (sanad) yang sangat ketat, layaknya karya para ahli hadis. Hal ini memberikan jaminan keabsahan sejarah (historisitas) dari setiap kisah keutamaan para kekasih Allah tersebut.
Relevansi Keumatan: Perekat Psikologis Umat Jawa Barat
Dalam kapasitasnya sebagai pimpinan MUI Jawa Barat sekaligus Mustafad JATMAN Jabar, Prof. Ajid Thohir secara cerdik menarik relevansi nilai-nilai Manaqib ini ke dalam konteks sosial masyarakat Jawa Barat saat ini.
Di era di mana umat rentan terpolarisasi, dijangkiti penyakit hati, dan kehilangan figur teladan, Manaqib mengambil peran strategis sebagai instrumen kohesivitas (perekat) sosial. Tradisi ini menempatkan figur ulama dan Waliyyullah sebagai puncak referensi intelektual dan spiritual.
"Kitab Manaqib adalah simbol dalam ikatan mazhab dan membentuk kohesivitas psikologis bagi para pengikut mazhab," tegas Prof. Ajid.
Bagi umat Islam di Jawa Barat—yang kehidupan keagamaannya sangat lekat dengan tradisi Nahdliyin, pesantrren, dan majelis zikir—rutinitas membaca Manaqib adalah cara paling efektif untuk merawat identitas keislaman. Pembacaan riwayat orang-orang saleh ini adalah sebentuk ikhtiar untuk menumbuhkan kecintaan kepada keturunan (ahlul bait) Rasulullah SAW, serta mentransformasikan akhlak para ulama ke dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Pasundan.
Melalui pemaparan ini, MUI Jawa Barat memberikan legitimasi sekaligus dorongan agar umat tidak meninggalkan tradisi yang mu'tabar. Revitalisasi sufisme melalui majelis-majelis manaqib dinilai sebagai jawaban paling relevan untuk mencetak karakter umat Jawa Barat yang moderat, beradab, berakhlak mulia, dan memiliki ketangguhan batin dalam menghadapi distorsi zaman.
Sinergi keilmuan antara Ketum MUI Jabar sebagai shohibul bait dan Waketum MUI Jabar sebagai penyampai khidmah ilmiyyah ini menjadi teladan harmoni kepemimpinan ulama dalam melayani dan menjaga tradisi keagamaan masyarakat Jawa Barat.
E. Wifky Afandi (Infokom MUI Prov. Jabar)
