Cover Banner (1640 × 624 piksel)



"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk." (QS. an-Nahl :125)
Perkuat Sinergi Agama dan Budaya, Ketum MUI Jabar Temui Kesepuhan Paguyuban Pasundan

BANDUNG, MUI JABAR – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Jawa Barat terus melakukan langkah proaktif dalam membangun kemitraan strategis dengan berbagai elemen penting di Jawa Barat. Langkah nyata tersebut diwujudkan melalui kunjungan silaturahmi Ketua Umum MUI Jawa Barat, Dr. K.H. Aang Abdullah Zein, M.Pd.I., kepada jajaran pimpinan Pengurus Besar (PB) Paguyuban Pasundan.

Kehadiran Ketua Umum MUI Jabar disambut dengan hangat oleh Ketua Umum PB Paguyuban Pasundan, Prof. Dr. H. M. Didi Turmudzi, M.Si. Turut hadir mendampingi dalam pertemuan tersebut, Ketua Bidang Penelitian dan Pengembangan PB Paguyuban Pasundan, Prof. Dr. H. Ali Anwar, M.Si.

Pertemuan yang berlangsung akrab tersebut menjadi momentum penting untuk menyatukan visi keumatan, menguatkan pendidikan karakter, serta menyelaraskan pelestarian nilai-nilai luhur budaya Sunda dengan ajaran keislaman.

Islam dan Sunda: Bagaikan Kujang dan Sarungnya

Dalam keterangannya, K.H. Aang Abdullah Zein menyampaikan rasa syukur dan penghormatan tertingginya atas penerimaan dari salah satu organisasi tertua dan paling berpengaruh di Tanah Pasundan tersebut.

"Alhamdulillah, sore ini sore penuh berkah, sore penuh kemuliaan. Kami, Majelis Ulama Indonesia Provinsi Jawa Barat, berkunjung kepada kesepuhan Paguyuban Pasundan," ujar Kiai Aang.

Lebih lanjut, ulama kharismatik ini memberikan pandangan filosofis yang sangat mendalam mengenai titik temu (irisan) antara nilai-nilai keislaman dan kebudayaan Sunda. Menurutnya, agama dan budaya di Jawa Barat tidak pernah saling berbenturan, melainkan saling melengkapi dan menguatkan.

"Sejatinya Islam adalah kebaikan, ketenangan, kemuliaan. Sejatinya Sunda adalah kedamaian, silih asah, silih asih, silih asuh. Seperti antara kujang dan sarangka-nya (sarungnya). Seperti ada hirup (hidup) dan kehidupannya," ungkapnya memberikan perumpamaan yang puitis nan sarat makna.

Kolaborasi Mewujudkan 'Jawa Barat Istimewa'

Dalam diskusi yang berlangsung hangat tersebut, kedua lembaga besar ini bersepakat untuk memperluas kolaborasi dalam berbagai program yang bersentuhan langsung dengan masyarakat. Sinergi ini diharapkan mampu memperkuat pendidikan karakter, melestarikan budaya Sunda, serta memperkokoh nilai-nilai keislaman di tengah tantangan zaman.

Kiai Aang menegaskan bahwa perpaduan kekuatan antara MUI dan Paguyuban Pasundan adalah modal utama untuk membangun peradaban masyarakat Jawa Barat yang unggul.

"Maka hari ini, kita bersama-sama membangun Jawa Barat istimewa melalui agama dan budaya," tegasnya.

Di akhir penjelasannya, Ketua Umum MUI Jabar menaruh harapan besar agar sinergi ini dapat membawa pesan damai yang menyejukkan bagi seluruh lapisan masyarakat, bahwa menjaga identitas budaya sama pentingnya dengan menjaga nilai-nilai keagamaan.

"Mudah-mudahan ke depannya semua orang dapat memahami, merasakan, bahwa Islam itu kaya, Sunda itu mulia," pungkas Kiai Aang.

E. Wifky Afandi (Infokom MUI Prov. Jabar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *