MAKKAH, MUI JABAR – Menakjubkan. Ternyata, Prestige Ajyad Hotel yang kami tempati selama di Tanah Suci adalah salah satu aset dari Wakaf Habib Bugak Al-Asyi. Beliau merupakan seorang ulama, dermawan, sekaligus pembesar Aceh keturunan Arab yang berasal dari wilayah Bugak, Kabupaten Bireuen, Aceh.
Sejarah mencatat, sekitar tahun 1809 M, menjelang keberangkatannya ke Tanah Suci Makkah, Habib Bugak yang bernama lengkap Habib Abdurrahman bin Alwi Al-Habsyi berinisiatif mengumpulkan dana wakaf dari masyarakat. Dana tersebut digunakan untuk membeli tanah dan membangun semacam "rumah singgah" di Makkah yang diperuntukkan bagi keperluan Jemaah Haji asal Aceh.
Semula, aset wakaf tersebut berada di sekitar Masjidil Haram. Namun, saat dilakukan proyek perluasan Masjidil Haram, aset wakaf Habib Bugak ditukar guling (ruislag/istibdal) ke kawasan lain yang tidak kalah strategis, yaitu di kawasan pertigaan Ajyad saat ini.
Aset pengganti itu terus berkembang pesat. Kini, wakaf tersebut telah berwujud Hotel Elaf Al-Mashaer (yang sekarang bernama Prestige Ajyad Hotel), Hotel Ramada, sebuah properti lain di kawasan Aziziyyah, serta sebuah kantor dan sebidang tanah di Syaikiyah.
Menurut data Kementerian Agama RI, aset wakaf Habib Bugak Al-Asyi saat ini bernilai tidak kurang dari 200 juta Riyal Saudi atau setara dengan Rp5 triliun. Bahkan, beberapa media di Aceh memperkirakan nilai riil aset wakaf tersebut bisa mencapai Rp25 triliun karena letaknya yang berada di lokasi premium dekat dengan Masjidil Haram.
Manfaat yang Terus Mengalir Melintasi Zaman
Setiap tahun, sebagian hasil dari pengelolaan profesional aset wakaf ini dibagikan kepada mauquf ‘alaih (penerima manfaat wakaf), yang di antaranya adalah jemaah haji asal Aceh.
Pada musim haji tahun 2026 ini, pengelola Wakaf Baitul Asyi menyalurkan dana manfaat sekitar 11,2 juta Riyal Saudi (SAR) atau sekira Rp50 miliar kepada 5.426 jemaah haji asal Aceh. Dengan demikian, masing-masing jemaah menerima dana tunai sebesar 2.000 Riyal atau sekitar Rp9,2 million. Sebuah pengelolaan yang sangat luar biasa.
Kisah sukses Wakaf Baitul Asyi ini mengajarkan kepada kita semua tentang hakikat "harta yang sesungguhnya"—yakni harta yang benar-benar bisa dibawa mati.
Banyak orang yang bekerja keras siang dan malam, tidak mengenal waktu, sibuk mengumpulkan materi demi mengamankan hari tua serta mengumpulkan bekal untuk anak cucu. Namun, harta tersebut pada akhirnya harus ditinggalkan di dunia, bahkan tidak sedikit yang kemudian hari justru menjadi pemicu sengketa di antara ahli waris.
Melalui warisannya, Habib Bugak Al-Asyi mengajarkan sebuah formula bagaimana mengamankan harta agar bisa dibawa mati dan terus mengalirkan pahala hingga hari kiamat. Hal ini sejalan dengan Sabda Nabi Muhammad SAW:
إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلا مِنْ ثَلاثٍ : صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
Artinya: "Apabila anak Adam (manusia) meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya." (HR. Muslim).
Berdasarkan penjelasan para ulama, yang dimaksud dengan sedekah jariyyah dalam hadis tersebut tidak lain adalah wakaf.
Wakaf Sebagai Penggerak Ekonomi Umat
Jasad Habib Bugak Al-Asyi memang telah lama menyatu dengan tanah. Namun hingga detik ini, namanya tetap harum dan terus disebut dengan penuh decak kagum.
Setiap kali hotel-hotel tersebut menerima tamu, setiap kali keuntungan operasionalnya dibagikan, dan setiap kali jemaah haji tersenyum karena terbantu oleh uang saku tersebut, maka aliran pahala terus mengalir deras kepada Sang Habib. Sungguh, ini adalah wujud bisnis terbaik dengan Allah SWT—sebuah investasi dunia akhirat yang tidak akan pernah mengenal kerugian.
Kisah historis ini mengirimkan pesan reflektif yang sangat mendalam bagi kita semua. Wakaf bukanlah sekadar urusan tanah kuburan, madrasah, atau masjid yang sepi jemaah. Wakaf, jika dikelola secara profesional, amanah, dan produktif, dapat menjelma menjadi instrumen pembangunan dan roda penggerak ekonomi yang mampu meningkatkan kesejahteraan umat secara nyata.
Wakaf Baitul Asyi pada akhirnya menggugah sebuah tanya di dalam hati kita masing-masing: “Warisan apa yang sedang kita persiapkan untuk masa depan akhirat kita? Jejak kebaikan apa yang akan tetap hidup dan mengalir ketika nama kita sudah dilupakan oleh dunia?”
Tentu, langkah awal tidak harus langsung berwujud hotel berbintang seperti Hotel Prestige yang kita singgahi saat ini, karena Habib Bugak pun dahulu memulainya dari sebuah rumah singgah yang sederhana.
Keabadian Wakaf Baitul Asyi tidak langsung tegak karena besarnya modal awal, melainkan karena fondasi keikhlasan yang kokoh dan visi jangka panjang yang menembus langit. Semoga kisah ini menggugah kesadaran kita untuk mulai menanam "pohon-pohon keberkahan" melalui wakaf. Agar kelak ketika kita telah tiada, buahnya tetap dapat dipetik oleh generasi yang akan datang, dan pahalanya mengalir deras tanpa henti kepada kita. Wallahu'alam.
Hotel Prestige Ajyad Makkah, 18 Mei 2026
Penulis: Tatang Astarudin (Ketua Lembaga Wakaf MUI Jawa Barat; Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung) Editor : E. Wifky Afandi (Infokom MUI Jabar)
