Cover Banner (1640 × 624 piksel)



"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk." (QS. an-Nahl :125)
Atasi Fenomena Fatherless dan Krisis Mental, Pimpinan MUI Jabar dan PKK Resmi Luncurkan Klinik Konseling Keluarga SEHATI

BANDUNG, MUIJABAR – Dalam upaya menjawab tantangan krisis ketahanan keluarga di era modern, Pimpinan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Jawa Barat bersama Tim Penggerak PKK Provinsi Jawa Barat secara resmi meluncurkan Klinik Konseling Keluarga SEHATI. Acara peresmian ini dirangkaikan dengan pelaksanaan webinar bertajuk “Bersama Keluarga Menjadi Lebih Kuat” yang digelar pada Selasa (15/09/2026) secara hibrida.

Peresmian Klinik SEHATI ditandai secara simbolis melalui prosesi pengguntingan pita oleh perwakilan Tim Penggerak PKK Provinsi Jawa Barat bersama unsur Pimpinan MUI Provinsi Jawa Barat yang diwakili oleh Wakil Ketua Umum Dr. KH. Asep Zaenal Muttaqien, ST., M.Ag. Momentum ini menjadi penanda kuatnya komitmen bersama dan sinergi berkelanjutan antara lembaga pemerintah, organisasi kemasyarakatan, akademisi, dan tokoh agama dalam memberikan layanan pendampingan keluarga yang komprehensif bagi masyarakat.

Mewakili Pimpinan MUI Jawa Barat, Ketua Komisi Perempuan, Remaja, dan Keluarga (PRK) MUI Jabar, Dr. Hj. Nani, menyampaikan apresiasi yang tinggi atas hadirnya Klinik Konseling Keluarga SEHATI sebagai sarana penguatan kesehatan mental masyarakat.

Pimpinan MUI menyatakan komitmen penuhnya untuk mendukung keberlangsungan program ini melalui dukungan kelembagaan serta pengerahan sumber daya manusia yang mumpuni. “MUI mendorong sinergi berbagai pihak agar Klinik Konseling Keluarga SEHATI dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat dalam mewujudkan keluarga yang sehat, harmonis, dan tangguh,” ujar Dr. Hj. Nani.

Menjawab Fenomena Fatherless

Webinar ketahanan keluarga ini menghadirkan sejumlah pakar lintas disiplin. Perwakilan Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN (Kemendukbangga), Elma Triyulianti S.Psi., M.M., memaparkan bahwa lembaganya tengah bertransformasi berdasarkan Perpres Nomor 139 Tahun 2024 guna mempersiapkan Generasi Emas 2045.

Salah satu program inovatif (Quick Win) yang digagas adalah Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI). Program ini lahir dari keprihatinan atas fenomena fatherless di Indonesia, yakni minimnya kehadiran atau keterlibatan sosok ayah dalam kehidupan anak, baik secara fisik maupun emosional.

Elma memaparkan data bahwa masih banyak anak Indonesia yang kehilangan peran ayah, yang dampaknya memicu gangguan kesehatan mental, masalah akademik, perilaku berisiko dan kenakalan remaja, hingga menurunnya kepercayaan diri anak. Ia menegaskan bahwa ayah bukan sekadar pencari nafkah, melainkan pelindung, pemberi kasih sayang, teladan, serta penanam nilai kehidupan dan spiritual. "Keterlibatan aktif ayah dalam pengasuhan diyakini dapat membentuk anak yang lebih percaya diri, sehat secara emosional, dan siap menjadi generasi unggul," jelasnya.

Manajemen Emosi dan Konsep 5S

Dari perspektif psikososial, Eti Sumiati, S.Pd., M.Si., menyoroti bahwa kesehatan mental adalah fondasi utama ketahanan keluarga. Ia memaparkan bahwa keluarga rentan dihantam berbagai tekanan, seperti konflik pasangan, kesulitan ekonomi, kekerasan dalam rumah tangga, hingga tantangan era digital berupa kecanduan gawai dan cyberbullying. Tanda-tanda gangguan mental yang perlu diwaspadai di antaranya adalah perubahan emosi, perilaku, dan perasaan putus asa yang berkepanjangan.

Untuk menghadapi tekanan tersebut, Eti mengenalkan teknik sederhana bagi orang tua, yakni STOP-TENANG-PAHAMI-RESPON, sebagai cara jitu mengelola emosi sebelum bereaksi. Ia juga mendorong keluarga untuk menjadi safe space (ruang aman) bagi anak melalui penerapan prinsip 5S: Saling Mendengarkan, Saling Mendukung, Saling Berkomunikasi, Saling Menguatkan, dan Saling Menjaga.

Keseimbangan Ikhtiar dan Tawakal

Sementara itu, Guru Besar Farmakologi dan Farmasi Klinis Fakultas Farmasi UNPAD, Prof. Dr. apt. Keri Lestari, M.Si., membedah ketahanan keluarga melalui pendekatan mindset (pola pikir). Menurutnya, pola asuh yang baik harus berawal dari perubahan mindset orang tua. Pengasuhan tidak boleh hanya sekadar menerapkan aturan kaku, tetapi harus berfokus pada pembentukan karakter dan hubungan yang sehat dengan anak, termasuk melalui validasi emosi.

Lebih dalam, Prof. Keri mengingatkan pentingnya menyeimbangkan aspek duniawi dan ukhrawi. Dalam perspektif keagamaan, ketahanan keluarga senantiasa dibangun melalui keseimbangan antara ikhtiar rasional dan sikap tawakal. Hal ini didasari oleh keyakinan teguh bahwa Allah SWT amat menyayangi hamba-hamba-Nya yang senantiasa bertawakal dalam mendidik keluarga.

E. Wifky Afandi (Infokom MUI Prov. Jabar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *